13 Mar 2017

LAPORAN BACAAN PEGANGAN PENELITIAN SASTRA BANDINGAN



LAPORAN BACAAN
PEGANGAN PENELITIAN SASTRA BANDINGAN
OLEH SAPARDI DJOKO DAMONO

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sastra Bandingan
yang dibina oleh Dr. Yenni Hayati, M. Hum.





RAHMA AULIA SYAINIT
NIM: 14017067



PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017




Kata Pengantar

      Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Swt yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan bacaan buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,. Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Sastra Bandingan, Dr. Yenni Hayati, M. Hum.
       Laporan bacaan buku ini berisikan pengenalan dan pendalaman mengenai sastra bandingan yang ada di Indonesia dan juga di luar Indonesia yang berasal dari buku yang dibandingkan. Di dalam buku ini juga terdapat beberapa contoh dari karya sastra yang dibandingkan, baik berbentuk terjemahan dan tradisi. Sastra bandingan merupakan perbandingan tidak hanya mengenai karyanya saja, namun juga bahasa yang digunakan.
      Penulis berharap hasil laporan bacaan ini bisa dijadikan perbaikan atau tolak ukur para pembaca, serta membantu pembaca untuk memahami sastra bandingan.









Padang, Maret 2017



Rahma Aulia Syainit






LAPORAN BACAAN
PEGANGAN PENELITIAN SASTRA BANDINGAN
OLEH SAPARDI DJOKO DAMONO




A. Pendahuluan
Judul Buku : Pegangan Penelitian Sastra Bandingan
Pengarang : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Pusat Bahasa
Tahun Terbit : 2005
Cetakan : Pertama
Kota/Lembaga Penerbit : Jakarta/ Departemen Pendidikan Nasional
Tebal Buku : vi+121 hlm.
ISBN : 979 685 513 5
Garis Besar Isi Buku :
       Buku ini menjelaskan bagaimana sastra bandingan yang ada di Indonesia. Dimulai dari pengenalan serta sebagai sumber informasi tentang sastra di Indonesia. Serta seperti apa sastra bandingan itu melalui beberapa pengertian dan bagaimana hakikat sastra bandingan itu.
Perkembangan sastra bandingan juga dijelaskan di sini. Dimulai dari sastra yang berkembang di Eropa hingga sastra bandingan di Indonesia. Para ahli yang berhubungan dengan perkembangan sastra bandingan juga dijelaskan.
      Pada bagian empat terdapat topik mengenai asli, pinjaman, dan tradisi yang berhubungan dengan sastra bandingan. Di sini juga dijelaskan bagaimana kemungkinan seorang sastrawan sampai meniru atau ‘meminjam’ sastra terdahulu. Pembahasan mengenai sastra terjemahan pun tidak luput dari sastra bandingan. Di dalam pembahasan ini juga diberikan beberapa contoh sastra terjemahan yang ada di Indonesia.
     Bagian keenam buku ini menjelaskan mengenai sastra bandingan nusantara. Pada bagian tujuh membandingkan dongeng-dongeng yang ada di luar Indonesia dengan dongeng yang berkembang di Indonesia. Sedangkan bagian kedelapan menjelaskan mengenai sosok Rabindranath Tagore. Berikutnya yaitu jejak romantisisme dalam sastra Indonesia. Bagian sepuluh berkenaan tentang Gatoloco: kasus peminjaman dan pemanfaatan. Pada bagian kesebelas berhubungan dengan alih wahana yang ada di dalam sastra bandingan. Pada bagian akhir, dijelaskan secara ringkas langkah-langkah yang sebaiknya diambil dalam melaksanakan pendekatan sastra bandingan.

B. Isi Buku
Kata pengantar buku ini ditulis oleh Kepala Pusat Bahasa, yaitu Dendy Sugono, yang ditulis pada 16 November 2005 di Jakarta. Pada bagian ini, dijelaskan secara ringkas mengenai bahasa dan sastra. Mengapa bahasa dan sastra itu sangat diperlukan. Serta alasan mengapa buku Pegangan Penelitian Satra Bandingan diterbitkan. Pada bagian akhir, dituliskan ucapan terima kasih kepada penulis buku ini, serta berharap buku ini dapat memberikan manfaat kepada pembacanya.

Bagian Satu: Pendahuluan
      Pada bagian pertama buku, berisi pendahuluan. BAB ini hanya berisi penjelasan singkat penulis mengenai pentingnya peneliti untuk menggunakan buku ini sebagai pegangan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan. Menyatakan fungsi, jenis, amanat sastra hanya bisa dipahami lebih baik jika dijajarkan dengan hal-hal lain yang ada di luar karya itu. Penulis juga menerangkan bahwa di dalam buku ini sastra bukanlah hanya yang tertulis, namun juga lisan. Menurut Sapardi, setiap kebudayaan mengahsilkan karya sastra, maka pendekatan ini sangat bermanfaat untuk memahami sastra serta kebudayaan yang telah membuat karya sastra tersebut ada.

Bagian Dua: Beberapa Pengertian Dasar
       Uraian yang dilakukan pada sastra bandingan yaitu dengan berlandaskan banding-membandingkan. Beberapa ahli menjelaskan pengertian sastra bandingan menurut pemikirannya. Remak (dalam Damono, 2005:2), sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni bina, dan seni musik), filsafat, sejarah, dan sains sosial (misalnya politik ekonomi, sosiologi), sain, agama, dan lain-lain.
Namun, sastra bandingan tidak hanya membandingan dua sastra dari dua negara atau bangsa, tetapi juga metode dalam upaya pendekatan atas sastra suatu bangsa saja. Sastra bandingan tidak hanya mencakup satu bidang kajian, tetapi merupakan pandangan yang menyeluruh menganai sastra. Di Amerika, perbandingan karya sastra tidak hanya dengan karya sastra yang lain saja, namun juga bidang ilmu lain. Hal itu berbeda dengan Perancis yang membandingkan suatu karya sastra dengan karya sastra lainnya. Dalam hal lain, pendekatan ini dituntut untuk menggunakan bahasa asli karya sastra dalam membandingkan.

Bagian Tiga: Perkembangan Sastra Bandingan
       Satra bandingan awalnya berasal dan dikembangkan di Eropa, namun bersumberkan pada mitologi Yunani dan kitab suci umat Kristiani menganai Perjanjian Baru dan Injil. Untuk memadatkan karyanya, sastrawan Eropa menggunakan kebudayaan dan mitologi Yunani. Pada saat itu digunakan tokoh-tokoh mitologi seperti Apollo, Venus, dan Dionysius. Bahasa yang terdapat di Eropa yang mirip menghasilkan kesusastraan yang berbeda hingga menimbulkan karya sastra dengan kebudayaan yang berbeda.
Pada abad ke-19 dan -20 lahirnya ilmu sastra bandingan, yang memiliki prosedur tersendiri. Pencetusnya yaitu Sainte-Beuve. Di abad ke-20, pengukuhan ilmu sastra bandingan terjadi ketika jurnal Revue de Litterature Comparee diterbitkan pertama kali pada tahun 1921.

Bagian Empat: Asli, Pinjaman, Tradisi
      Penularan merupakan alasan utama terjadinya perkembangan sastra bandingan. Konsep pengaruh mencakup hal yang luas, mulai dari pinjaman sampai tradisi. Terjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain dapat menimbulkan lahirnya perkembangan dari dalam sastra yang diperuntukan awalnya. Sastrawan punya kecenderungan untuk meminjam baik secara langsung maupun tidak. Contohnya yaitu pada kisah Oedipus yang membunuh ayahnya lalu menikahi ibunya dengan kisah Elektra, gadis yang membenci ibunya dan mencintai ayahnya sendiri. Contoh lain yang ada di dalam negeri yaitu kisah Roro Mendut dan Siti Nurbaya, yang sama-sama memiliki kisah cinta yang tragis seperti yang ada di dalam Romeo-Juliet. Kemiripan juga bisa terjadi karena perkembangan masyarakat dan peristiwa besar yang juga sama-sama terjadi di dalam wilayah tersebut. Seperti perang dan bencana.

Bagian Lima: Terjemahan
        Sebelum melakukan peminjaman suatu karya sastra, terlebih dahulu dilakukan terjemahan. Dalam hal ini, Chairil Anwar bisa dijadikan sebagai contoh sastrawan Indonesia yang melakukan terjemahan terhadap karya sastra yang ditulis oleh sastrawan luar, dan bahkan terkadang bisa disebut “mengambil” lalu menghasilkan kesusastraan yang baru di Indonesia. Contohnya bisa dilihat dari beberapa baris puisi di bawah ini.
Heart of the heartless world,
Dear heart, the thought of you
Is the pain at my side
The shadow that chills my view (John Conford—Poem)
 Berikut terjemahan dari Chairil Anwar yang berjudul Huesca.
Jiwa di dunia yang hilang jiwa
Jiwa saying, kenangan padamu
Adalah derita di sisiku
Bayangan yang bisa bikin tinjauan beku.

Terjemahan karya sastra yang berkembang di Indonesia merupakan hal yang tidak bisa terlepas dari Indonesia. Karena dengan adanya terjemahan, perkembangan sastra yang ada di Indonesia dapat berkembang.

Bagian Enam: Sastra Bandingan Nusantara
        Kebudayaan merupakan salah satu objek sastrawan yang akan dijadikan sebagai suatu karya dalam bentuk atau media yang lain. Semua itu nantinya akan dibuat secara kreatif, sesuai dengan imajinasi pengarang. Salah satu penyebab berbeda atau samanya suatu budaya yaitu geografis. Perbedaan pandangan hidup menghasilkan tatanan sosial yang berbeda pula.  Seperti pada novel Pengakuan Pariyem, yang berlatarkan perempuan Jawa. Jika dibaca oleh masyarakat dari luar budaya Jawa, akan tidak paham beberapa bagian nilai-nilai yang ada di dalam novel tersebut. Di nusantara dapat kita temukan genre wiracarita, berupa bentuk syair, kidung, kakawin, hikayat, berbagai jenis teater rakyat, dan pelipur lara. Mahabharata yang berasal dari India dapat ditemukan dalam berbagai bentuk di Indonesia. Genre yang selalu ada di dalam semua kebudayaan Indonesia yaitu mantra. Mantra merupakan tradisi lisan yang digunakan sebagai wahana untuk mencapai berbagi jenis maksud dan tujuan. Penelitian mengenai genre bisa beryumpang tindih dengan penelitian mengenai pengaruh, yang dalam artinya yang luas mencakup juga perubahan bentuk, saduran, dan terjemahan. Contoh lain yaitu kisah Oedipus yang bisa kita temukan dalam kisah Sangkuriang yang berasal dari Sunda.

Bagian Tujuh: Membandingkan Dongeng
        Dalam sastra bandingan, salah satu kegiatan yang banyak dilakukan adalah membandingkan dongeng yang mirip dari berbagai negara. Tujuannya adalah untuk mengetahui dongeng mana yang asli dan pengaruhnya, serta perbedaan dan persamaan yang ada, juga watak masyarakatnya. Jenis kisah yang sering kita dengar yaitu mitos, legenda, dan fabel. Contohnya yaitu kisah Sangkuriang dari Indonesia dan Oedipus yang berasal dari Yunani. Kisah ini sama-sama menceritakan seorang laki-laki yang membunuh ayahnya dan menikahi ibunya sendiri.

Bagian Delapan: Dalam Bayangan Tagore
       Rabindranath Tagore adalah sastrawan Asia pertama yang menerima hadiah Nobel untuk bidang kesustraan pada tahun 1913. Ia merupakan salah satu panutan bagi penyair pada periode 1930-an serta membentuk minat para pemuda dalam bidang sastra. Puisinya yang berjudul Gitanjali menarik perhatian pemuda pada tahun 1950-an, setelah diterjemahkan oleh Amal Hamzah. Tidak hanya di Indonesia, ia juga menjadi pusat perhatian dunia setelah menerima hadiah nobel. Di berbagai majalah muncul puisi-puisi yang bergaya Tagore. Puncak minat terhadap gaya penulisan Tagore di Indonesia terjadi pada tahun 1930-an dan 1940-an. Amir Hamzah merupakan salah satu penyair yang terpengaruh, seperti puisinya yang berjudul “Doa” dan “Memuja Dikau”. Namun, beberapa tahun setelah ia menerima nobel, popularitasnya mulai merosot. Tagore sendiri telah menulis lebih dari seribu sajak, hampir dual lusin naskah lakon, delapan novel, dan lebih dari delapan kumpulan cerpen. Ia menulis dalam bahasa Bengali. Beberapa karyanya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh dirinya sendiri atau orang lain. Yang paling menarik dari puisinya yaitu adanya ketaksaan atau ketegangan yang muncul karena kita bisa menafsirkan hubungan-hubungan yang diungkapkan oleh puisi itu antara Tuhan dan manusia atau antara manusia-manusia.

Bagian Sembilan: Jejak Romantisisme Dalam Sastra Indonesia
           Hal yang mengendalikan kaum romantik adalah rasa, bukan otak. Alam yang liar dan perasaan adalah kunci dari mazhab ini, yang dari negeri asalnya Eropa merupakan upaya untuk pemberontakan terhadap segala sesuatu yang sudah mapan atau yang dimapankan oleh aturan dan otak. Romantisme lebih mengutamakan emosi daripada rasionalitas, lebih menghargai individu daripada masyarakat, lebih menghargai alam daripada budaya. Menurut William Wordsworth, “luapan spontan dari perasaan yang menggebu-gebu”. Contoh penyair dari dalam negeri yang merupakan penyair yang romantic yaitu Sanusi Pane, berikut kutipan beberapa baris puisinya.
Mencari
Akhirnya kusampai
Ke dalam taman
Hati sendiri
Di sana bahagia
Sudah lama
Menanti daku

Menurut Sanusi Pane, yang utama dalam hidup adalah perasaan yang ada di dalam hati sendiri, kebudayaan bukanlah sesuatu yang penting.

Bagian Sepuluh: Gatoloco: Kasus Peminjaman dan Pemanfaatan
          Sebuah sajak Goenawan Mohamad, “Gatoloco”, dihadapkan dengan sebuah kitab suluk yang dikenal dengan judul yang sama. Jika sajak Goenawan Mohamda dikaitkan dengan kitab suluk ini dengan pendekatan sastra bandingan, makna yang tersirat bisa lebih dalam dipahami. Latar, metaphor, lambang, dan segala piranti puitik yang digunakan penyair modern sangat dengan dengan ihwa sehari-hari, dan kearenanya membawa pengertian yang tersirat dalam kitab suluk itu semakin dekat dengan hakikat kehidupan kita. Goenawan Mohamad telah meminjam dan memanfaatkan kitab Gatoloco untuk mengungkapkan posisi manusia modern di harapan Penciptanya. Berikut sedikit kutipan dari sajak Goenawan Mohamad “Gatoloco”.
Tak bisa lagi bersuara tengkar dari seminar ke seminar,
Memenangkan-Ku, seperti seorang pengacara. Sebab kau hanya pengembara, yang menghitung jarak perjalanan, lelah tapi
Pongah, dengan karcis dua jurusan.

Bagian Sebelas: Alih Wahana
          Alih wahana adalah perubahan dari suatu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. Cerita rekaan misalnya, bisa diubah menjadi tari, drama, atau film. Dengan demikian dapat diketahui bahwa satra bisa merambah bidang lain. Membanding-bandingkan yang beralih wahan merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi pemahaman yang lebih terhadap sastra. Contoh dari alih wahana yaitu novel Siti Nurbaya yang dialih wahanakan menjadi film. Namun, terdapat perbedaan yang mendasar antara karya sastra dan film. Misalnya saja dalam pengembangan imajinasi pembaca dan penonton. Melalui karya sastra, kita dapat membayangkan kecantikan Siti Nurbaya sesuai dengan yang kita imajinasikan, sedangkan ketika difilmkan, bisa saja pemeran Siti Nurbaya itu jauh dari bayangan kita, sehingga kita menjadi kecewa. Unsur lain yang penting untuk mendapat perhatian yaitu dialog. Saat difilmkan, tidak dibolehkan adanya dialog panjang-panjang seperti yang ada di dalam novel.

Bagian Dua Belas: Penutup
         Setidaknya ada lima pendekatan yang bisa dilakukan untuk melakukan penelitian sastra bandingan yang disebutkan oleh Clements, yakni:
1. Tema/mitos
Misalnya yaitu karya Shakespeare dan Roro Mendut. Langkah-langkah yang bisa dilaksanakan dalam penelitian ini antara lain:
Diusahakan naskah yang dipergunakan sebagai bahan bandingan adalah asli, yakni yang ditulis dalam bahasa asal.
Membicarakan perbedaan waktu dan tempat pencipaan  kedua karya tersebut.
Membicarakan perbedaan beberapa unsure formal seperti penokohan, pelataran, dan pengaluran.
Rangkaian peristiwa yang disusun dalam kedua karya sastra itu juga bisa menjadi bahan pembicaraan yang menentukan makna.
Kedua karya itu bukan ciptaan asli, tetapi berasal dari kisah yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian bisa dibicarakan sampai berapa jauh kedua pengarang mengembangkan, mengubah, dan “mengkhianati” sumber karyanya.

2. Genre/bentuk
Misalnya dengan membandingkan karya Sir Arthur Conan Doyle dalam serial Sherlock Holmes dan Grandy’s dalam kisah bersambungnya mengenai Naga Mas. Pembahasan yang bisa dilakukan yaitu:
Bagaimana kedua pengarang memanipulasi unsur-unsur formal genre itu untuk menciptakan konflik dalam ketegangan sehingga menimbulkan rasa ingin tahu pembaca.
Jenis kejahatan apa yang sering muncul dari kedua cerita detektif ini dan bagaimana tokoh utama menyelesaikannya.
Adakah perbedaan dalam latar pelaksanaan kejahatan, bagaimana teknik pendeskripsian latar itu.

3. Gerakan/zaman
Masalah yang dapat dibicarakan yakni:
Apa cirri mashab yang dikirim dan diterima oleh kesusastraan yang menjadi sasarannya.
Situasi sosial, politik, dan budaya.
Bagaimana penerimaan kesusastraannya terhadap pengembangan mashab tersebut.

4. Sastra dan bidang seni serta disiplin lain.
Jenis pendekatan ini menuntut adanya penguasaan atas dua seni yang dibandingka. Misalnya membandingkan kualitas bunyi dalam puisi Sutardji Calzoum Bachri dengan musik.

5. Sastra sebagai bahan pengembangan teori
Teori sastra dapat dijadikan acuan bagi pengembangan sastra sementara teori terus dikembangkan berdasarkan karya-karya baru yang sebelumnya sulit untuk didekati dengan teori yang sudah tersedia.

C. Komentar
         Buku pembanding di dalam makalah ini yaitu buku yang juga ditulis oleh Sapardi Djoko Damono mengenai Sastra Bandingan. Judulnya yaitu Sastra Bandingan, yang diterbitkan pada tahun 2009. Umumnya, kedua buku ini memiliki persamaan. Hal ini bisa disebabkan karena kedua buku ini ditulis oleh orang yang sama, atau buku kedua ini merupakan pengembangan dari buku yang dibuat terdahulu. Jika dirunutkan berdasarkan tahun, maka Pegangan Penelitian Sastra Bandingan merupakan buku yang pertama terbit. Buku sastra bandingan bisa dikatakan sebagai perbaikan yang dilakukan oleh Sapardi. Beberapa bab yang ada di dalam kedua buku ini juga hampir sama. Membahas hal yang sama dengan judul yang sedikit berbeda. Namun, pada buku Satra Bandingan terdapat bab Lampiran, yang berisi tentang gerakan romantik beserta beberapa sajak. 
         Pada bab Sembilan di dalam buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan memiliki judul “Jejak Romantisme Dalam Sastra Indonesia”. Sedangkan pada buku Sastra Bandingan memiliki judul yang lebih membandingkan antara sastra di Inggris dan Indonesia, lebih sempitnya dalam kasus puisi. Judul babnya yaitu Meninjau Romantisisme: Kasus Puisi Inggris dan Indonesia. Pada buku ini lebih dijelaskan secara terperinci mengenai karya sastra yang beredar di Inggris dan Indonesia. Sedangkan pada buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan langsung membahas puisi yang merupakan contoh dari jejak romantisisme yang ditulis oleh J.E Tatengkeng. Pada buku Sastra Bandingan, contoh-contoh dari karya sastra yang dibandingkan juga lebih banyak. Pada pembahasan awal mengenai pengertian sastra bandingan, kedua buku ini memiliki banyak perbedaan, baik dari segi isi bab serta judul bab yang digunakan. Namun, pada buku Sastra Bandingan tidak terdapat bab penutup yang berisikan penjelasan lebih lanjut mengenai teori yang dijelaskan oleh Clements mengenai prinsip-prinsip dasar tentang pendekatan yang harus dilakukan oleh penelitian sastra bandingan. Juga tidak terdapat bab satu pendahuluan mengenai pengenalan singkat tentang sastra bandingan.

D. Penutup 
     Dapat kita ketahui bahwa masing-masing buku ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Walaupun ditulis oleh penulis yang sama, buku ini memiliki beberapa isi yang berbeda. Dengan membaca buku ini, kita dapat menambah pengetahuan mengenai sastra bandingan. Bidang ilmu sastra tidak hanya berhubungan dengan karya sastra saja, namun juga bisa dihubungkan dengan berbagai bidang ilmu lainnya.




Daftar Pustaka

Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sastra Bandingan. Ciputat: Editum.